Sebagian orang yang mengingkari hadits-hadits Al-Mahdi mengemukakan alasan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah saw bersabda:
"Tidaklah bertambah urusan melainkan semakin sulit, dunia semakin rusak, manusia semakin bakhil; dan tidaklah datang kiamat melainkan atas manusia yang paling jelek, dan tidak ada Al-Mahdi kecuali Isa bin Maryam." (Sunan Ibnu Majah 2: 1341, dan Mustadrak Al-Hakim 4: 441-442).
Alasan mereka ini dijawab bahwa hadits ini adalah dha'if karena dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Muhammad bin Khalid Al-Jundi. Mengenai Muhammad ini Adz-Dzahabi mengatakan, "Al-Azdi berkata, "Mungkar haditsnya." Dan Abu Abdillah Al-Hakim berkata, "Majhul." Dan saya sendiri -Adz-Dzahabi- me¬ngatakan bahwa haditsnya yang berbunyi Laa Mahdiyya Illaa Isa Ibnu Maryam (Tidak ada Mahdi kecuali Isa Ibnu Maryam) merupakan khabar mungkar yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah." (Mizanul I'tidall: 535).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Hadits ini dha'if. Abu Muhammad bin Al-Walid Al-Baghdadi dan lain-lainnya berpegang pada hadits ini, padahal dia ti¬dak dapat dijadikan pegangan. Dan hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Yunus dari Asy- Syafi'i, dan Asy-Syafi'i meriwayatkan dari seorang laki-laki penduduk Yaman yang bernama Muhammad bin Khalid Al-Jundi, yang dia ini tidak dapat dijadikan hujjah, dan hadits ini tidak terdapat di dalam Musnad Asy-Syafi'i. Dan ada yang me¬ngatakan bahwa Asy-Syafi'i tidak mendengarnya dari Al-Jundi dan Yunus tidak mendengarnya dari Asy-Syafi'i." (Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah 4: 211).
Mengenai Muhammad bin Khalid Al-Jundi ini Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Dia majhul (tidak dikenal)." (Taqribut Tahdzib 2: 157)
Lain lagi dengan Al-Hafizh Ibnu Katsir, mengenai masalah ini beliau berkata, "Sesungguhnya ini adalah hadits yang terkenal dengan perawi Muhammad bin Khalid Al-Jundi Ash-Shan'ani Al-Muadzdzin, guru Imam Syafi'i, yang banyak orang meri¬wayatkan hadits darinya. Dia tidak majhul sebagaimana anggapan Al-Hakim, bahkan diriwayatkan dari Ibnu Ma'in bahwa beliau menganggapnya tsiqat (kepercayaan). Tetapi sebagian perawi ada yang meriwayatkan hadits darinya dari Aban bin Abi 'Iyasy dari Al-Hasan Al-Bishri secara mursal. Syekh (guru) kami menyebutkan di dalam At-Tahdzib dari sebagian mereka bahwa dia (Muhammad bin Al-Khalid Al-Jundi) bermimpi melihat Asy-Syafi'i, dia berkata, "Yunus bin Abdul A'la Ash-Shadafi berdusta terhadap saya, ini bukan hadits saya." Saya mengatakan, "Yunus bin Abdul A'la Ash-Shadafi termasuk dalam jajaran perawi kepercayaan, dan dia tidak tercela hanya semata-mata mimpi. Zhahir hadits ini sepintas kelihatan bertentangan dengan hadits-ha¬dits yang telah kami kemukakan dalam menetapkan adanya Al-Mahdi yang selain Isa Ibnu Maryam. Sebelum turunnya Isa, maka adanya Mahdi yang bukan Isa bin Maryam adalah sangat jelas -wallahu a'lam-. Adapun setelah turunnya Isa, kalau direnungkan, maka hal ini tidak saling meniadakan; bahkan yang dimaksud dengannya bahwa Al-Mahdi yang benar-benar Al-Mahdi ialah Isa bin Maryam. Dan hal ini tidak menutup kemungkinan adanya Mahdi yang lain. Wallahu a'lam." (An-Nihayah fil Fitan wal Malahim 1: 32 dengan tahqiq DR. Thaha Zaini).
Abu Abdillah Al-Qurthubi berkata, "Boleh jadi yang dimaksud dengan sabda Rasulullah saw "Laa Mahdiyya Illaa Isaa" (Tidak Mahdi selain Isa) ialah "Tidak ada Mahdi yang sempurna dan makshum kecuali Isa." Dengan demikian maka hadits-ha¬dits tersebut dapat dikompromikan dan hilanglah kesan pertentangannya."
Saya berkata, "Seandainya hadits ini ditetapkan shahih, maka ia tidak dapat mengesampingkan hadits-hadits mengenai hadits-hadits mengenai Al-Mahdi yang ba¬nyak jumlahnya dan lebih shahih isnadnya daripada hadits ini yang masih diperselisihkan oleh para ulama mengenai shahih dan tidaknya. Wallahu a'lam."
Jumat, 14 Mei 2010
Hadits “Tidak Ada Al-Mahdi Kecuali Isa Ibnu Maryam” dan Jawabannya
Orang-orang Yang Mengingkari Hadits Al-Mahdi dan Jawabannya
Kemutawatiran Hadits-hadits Al-Mahdi
Hadits-hadits yang telah kami sebutkan di muka di samping banyak hadits lain yang tidak kami sebutkan -karena khawatir terkesan terlalu panjang- menunjukkan bahwa hadits-hadits tentang Al-Mahdi adalah Mutawatir Maknawi. Hal ini telah dikemukakan oleh beberapa Imam dan ulama, antara lain:
1. Al-Hafizh Abul Hasan Al-Abiri berkata, "Telah mutawatir berita-berita dan telah melimpah riwayat-riwayat dari Rasulullah saw yang menyebutkan tentang Al-Mahdi bahwasanya dia berasal dari keluarga beliau, akan berkuasa selama tujuh tahun, akan memenuhi bumi dengan keadilan, bahwa Isa 'alaihissalam akan muncul dan membantu dia untuk memerangi Dajjal, dan dia mengimami umat ini melakukan shalat dan Isa shalat di belakangnya." (Tahdzibul Kamal Fi Asmair Rijal 3: 1194 karya Abul Hajjaj Yusuf Al-Maziy dan Al-Manarul Munif: 142 de¬ngan tahqiq Abdul Fattah Abu Ghodah).
2. Muhammad Al-Barzanji berkata, di dalam kitabnya Al-Isya'ah Asyratis Sa'ah yang memuat banyak sekali tanda akan datangnya kiamat dan di antaranya adalah Al-Mahdi yang merupakan tanda yang pertama kali muncul, katannya, "Ketahuilah bahwasanya hadits-hadits yang membicarakan Al-Mahdi dengan pelbagai riwayatnya hampir tak terhitung banyaknya." (Al-Isya'ah li Asyrathis Sa'ah: 87). Dia berkata lagi, "Saya tahu bahwa hadits-hadits yang membicarakan adanya Al-Mahdi dan keluarnya pada akhir zaman yang dia ini dari keluarga Rasulullah saw dari keturunan Fatimah as mencapai derajat mutawatir maknawi, maka tidak ada artinya orang mengingkarinya." (Al-Isya'ah: 112).
3. Al-'Allamah Muhammad As-Sufarini berkata, "Banyak sekali riwayat tentang akan kedatangan Al-Mahdi hingga mencapai derajat mutawatir maknawi. Hal ini sudah tersebar di kalangan ulama sunnah sehingga sudah dianggap sebagai aqidah mereka." Kemudian beliau menyebutkan sejumlah hadits dan atsar mengenai kedatangan Al-Mahdi dan nama beberapa orang sahabat yang meriwayatkannya, lalu beliau berkata, "Sungguh telah diriwayatkan dari orang-orang yang menyebutkan nama sahabat dan yang tidak menyebutkan nama sahabat dengan riwayat yang banyak sekali jumlahnya serta dari para tabi'in sesudah mereka yang menghasilkan ilmu (pengetahuan) yang pasti (qath'i). Karena itu mengimani kedatangan al-Mahdi adalah wajib sebagaimana ditetapkan oleh para ahli ilmu dan dibukukan dalam aqidah Ahli Sunnah wa Jama'ah." (Lawami'ul Anwari Bahiyyah 2: 84. Dan periksa: Aqidah Ahlis Sunnah wal-Atsar, halaman 173).
4. Imam Syaukani berkata, "Hadits-hadits mutawatir mengenai kedatangan Al-Mah¬di Al-Muntazhor yang dapat dipegangi sebagai hujjah di antaranya terdapat lima puluh hadits yang terdiri atas hadits shahih, hasan, dan dha'if yang terpuluhkan kedudukannya (karena banyaknya yang shahih dan hasan); dan ini adalah mutawa¬tir tanpa diragukan dan tanpa ada kesamaran. Bahkan dalam jumlah di bawah lima puluh pun sudah dianggap mutawatir menurut istilah yang ditetapkan dalam ilmu ushul. Adapun atsar-atsar dari sahabat mengenai kedatangan Al-Mahdi ini banyak sekali jumlahnya dan dapat dihukumi marfu', mengingat tidak adanya lapangan ijtihad dalam masalah ini (yakni tidak mungkin para sahabat berani mengatakan dengan pendapatnya sendiri bahwa kelak akan datang Al-Mahdi pada akhir zaman, melainkan karena mereka mendengar keterangan dari Rasulullah saw mengenai masalah ini -AY.)." (Dari risalah Asy-Syaukani yang berjudul At-Taudhih Fi Tawaturi Maa Jaa-a Fil Mahdil Muntazhor wad-Dajjal wal-Masih sebagaimana dikutip oleh Shidiq Hasan dalam kitab Al-Idza'ah halaman 113-114 dan Al-Katani dalam kitab Nazhmul Mutanatsir minal Haditsil Mutawaatir" halaman 145-146. Dan periksa pula kitab Aqidah Ahlis Sunnah wal Atsar fil Mahdil Muntazhor ha¬laman 173-174).
Bab II Tanda-tanda Kiamat Kubro ( Besar )
2.
"Aku sampaikan kabar gembira kepada kalian dengan datangnya Al-Mahdi yang akan diutus (ke tengah-tengah manusia) ketika manusia sedang dilanda perselisihan dan kegoncangan-kegoncangan, dia akan memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi dengan penganiayaan dan kezhaliman. Seluruh penduduk langit dan bumi menyukainva, dan dia akan membagi-bagikan kekayaan secara tepat (merata)." Lalu ada seseorang yang bertanya kepada beliau, "Apakah yang dimaksud dengan shihah (tepat) ?" Beliau menjawab, "Merata di antara manusia." Dan selanjutnya be¬liau bersabda, "Dan Allah akan memenuhi hati umat Muhammad saw dengan kekayaan (kepuasan), dan meratakan keadilan kepada mereka seraya memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan: 'Siapakah yang membutuhkan harta ?' Maka tidak ada seorang pun yang berdiri kecuali satu, lalu Al-Mahdi berkata, "Datanglah kepada bendahara dan katakan kepadanya, 'Sesungguhnya Al-Mahdi menyuruhmu memberi uang.' Kemudian bendahara berkata, 'Ambillah sedikit!' Sehingga setelah dibawanya ke kamarnya, dia menyesal se¬raya berkata, 'Saya adalah umat Muhammad yang hatinya paling rakus, atau saya tidak mampu mencapai apa yang mereka capai' Lalu ia mengembalikan uang (harta) tersebut, tetapi ditolak seraya dikatakan kepadanya, 'Kami tidak mengambil kembali apa yang telah kami berikan.' Begitulah kondisinya waktu itu yang berlangsung waktu itu yang berlangsung selama tujuh, delapan, atau sembilan tahun. Kemudian tidak ada kebaikan lagi dalam kehidupan sesudah itu." (Musnad Ahmad 3: 37. Al-Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan lainnya secara ringkas, dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan berbagai sanad, juga diriwayatkan oleh Abu Ya'la dengan ringkas, dan perawi-perawinya terpercaya." Majma'uz Zawaid 7: 313:314. Dan periksalah "Aqi-datu Ahlis-Sunnah wal-Atsar fi Al-Mahdi Al-Muntazhar" halaman 177 karya Syekh Abdul Muhsin Al- 'Abbad).
Hadits ini menunjukkan bahwa setelah kematian Al-Mahdi akan muncul keburukan dan fitnah-fitnah yang besar.
3.
"Al-Mahdi itu dari golongan kami, ahli bait. Allah memperbaikinya dalam satu malam." (Musnad Ahmad 2:58 hadits nomor 645 dengan tahqiq Ahmad Syakir yang mengatakan, "Isnadnya shahih." Dan Sunan Ibnu Majah 2:7367. Hadits ini juga dishahkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir 6: 22 hadits nomor 6611).
Ibnu Katsir berkata, "Allah menerima taubatnya dan memberinya taufiq, memberinya ilham dan bimbingan setelah sebelumnya tidak demikian." (An-Nihayah fil-Fitan wal-Malahim 1: 29) dengan tahqiq DR. Thaha Zaini).
4.
“ Al Mahdi itu dari keturunanku, lebar dahinya dan mancung hidungnya. Ia memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi dengan kezhaliman dan penganiayaan. Ia berkuasa selama 7 tahun.” ( Sunan Abu Daud, Kitab Al Mahdi 11:375 hadits nomor 4265. Mustadrak Al Hakim 4:557 dan dia berkata,” Ini adalah hadits shahih menurut syarat Muslim, tetapi beliau berdua ( Bukhari dan Muslim ) tidak meriwayatkannya. Adz Dzahabi berkata,” Imran, salah seorang perawinya, adalah dha’if dan Muslim tidak meriwayatkan haditsnya.” Dan mengenai sanad Abi Daud, Al Mundziri berkata,” Di dalam sanadnya terdapat Imran Al Qahthan dimana Al Bukhari menjadikan haditsnya sebagai syahid, dan dia dianggap kepercayaan oleh Affan bin Muslim Al Albani berkata,” Isnadnya hasan.” ( Shahih Al Jami’ush Shaghir 6: 22-23 hadits nomor 6612 )
5.
“ Al Mahdi itu keturunanku, dari anak cucu Fatimah.” ( Sunan Abi Daud 11: 373; Sunan Ibnu Majah2: 1368. Al Albani berkata dalam Shahih Al Jami’ush Shaghir 6:22 nomor 6610,” Shahih.” )
6.
Isa bin Maryam akan turun, lalu pemimpin mereka, Al Mahdi, berkata,’ Marilah sholat bersama kami !’ Isa menjawab,’ Tidak! Sesungguhnya sebagian mereka menjadi Amir/ Pemimpin bagi sebagian yang lain sebagai penghormatan dari Allah kepada umat ini.’” ( Hadits Riwayat Al Harits bin Abu Usamah dalam musnadnya seperti disebutkan dalam Al Manarul Munif karya Ibnul Qayyim hal 147-148, dan diriwayatkan dalam Kitab Al Hawi fii Al Fatawa karya Imam Suyuthi 2: 64 Ibnul Qayyim berkata,” Hadits ini isnadnya Jayyid ( bagus ).”
7.
“ Tidaklah dunia akan lenyap sehingga Negeri Arab dikuasai oleh seorang laki-laki dari ahli baitku ( keturunanku ) yang namanya sama dengan namaku ( Muhammad bin ‘Abdullah ) – ( Sumber: Musnad Ahmad 5:199 hadits nomor 3573 dengan tahqiq Ahmad Syakir, dia berkata,” Isnadnya shahih.” Dan Tirmidzi 6: 485, dan dia berkata,” Ini adalah hadits hasan shahih.” )







