7. Al A'raaf : 187

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba." Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
Tampilkan postingan dengan label Dajjal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dajjal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Mei 2010

Apakah Dajjal Masih Hidup?

Apakah Dajjal itu sudah ada pada zaman Nabi saw? Sebelum menjawab kedua pertanyaan di atas, terlebih dahulu kita harus mengetahui keadaan Ibnu Shayyad, apakah dia itu Dajjal atau bukan?
Kalau Dajjal itu bukan Ibnu Shayyad, maka apakah dia telah ada sebelum kemunculannya dengan membawa fitnah?
Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, marilah kita mengenai Ibnu Shayyad terlebih dahulu.
Ibnu Shayyad
Namanya: Shafi, dan ada yang mengatakan Abdullah bin Shayyad atau Shaid.
Ia berasal dari kalangan Yahudi Madinah, ada yang mengatakan dari kalangan Anshar, dan dia masih kecil ketika Nabi saw tiba di Madinah.
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa dia adalah Aslam, dan anaknya, "amaroh, salah seorang pemuka tabi'in. Imam Malik dan lain-lainnya meriwayatkan hadits darinya. (An-Nihaya Fil Fitan 1: 128 dengan tahqiq DR. Thaha Zaini).
Adz-Dzahabi mengemukakan biodatanya dalam kitab beliau Asmaush-Shaha-bah. Beliau berkata, "Abdullah bin Shayyad dicatat oleh Ibnu Syahin. Beliau berkata, "Dia adalah Ibnu Shaaid. Ayahnya seorang Yahudi, lalu Abdullah dilahirkan dalam keadaan buta sebelah matanya dan sudah berkhitan. Dialah yang dikatakan orang sebagai Dajjal, lalu dia masuk Islam. Dan dia adalah orang tabi'i. (Tajridu Asmaish-Shahabah 1: 319 nomor 3366 karya Al- Hafizh Adz-Dzahabi, terbitan Darul Ma'rifah, Beirut).
Perkataan Adz-Dzahabi itu kemudian dikutip pula oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-lshobah, lalu beliau berkata, "Dia adalah orang yang punya putera "Amaroh bin Abdullah bin Shayyad, termasuk orang pilihan kaum muslimin dan sahabat Sa'id bin Al- Musayyab. Imam Malik dan lain-lainnya meriwayatkan hadits dari beliau."
Kemudian Ibnu Hajar menyebutkan sejumlah hadits tentang Ibnu Shayyad -sebagaimana akan kami kutip di sini- lalu beliau berkata, "Secara garis besar, tidak artinya menyebut Ibnu Shayyad dalam kelompok sahabat. Sebab, kalau dia itu Dajjal, maka sudah barang tentu dia bukan sahabat, karena dia mati kafir; dan kalau Ibnu Shayyad itu bukan Dajjal, maka ketika bertemu Nabi saw dia belum masuk Islam." (Al-lshobah Fi Tamyizish-Shahabah, pada bagian keempat, dalam pembahasan tentang orang yang bernama "Abdullah", juz 3, halaman 133 karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, terbitan As-Sa'adah, Mesir, cetakan pertama, 1328 H.).
Tetapi jika ia masuk Islam setelah itu, maka ia adalah seorang Tabi'i yang pernah melihat Nabi saw sebagaimana dikatakan oleh Adz-Dzahabi.
Dan di dalam kitabnya Tahdzibut Tahdzib, Ibnu Hajar mengidentifikasi 'Amarah Ibnu Shayyad dengan mengatakan, "Amaroh bin Abdullah bin Shayyad Al-Anshari Abu Ayyub Al-Madani, meriwayatkan hadits dari Jabir bin Abdullah dan Sa'id bin Al-Musayyab serta Atha' bin Yasar, sedang Adh-Dhahhak bin Utsman dan Imam Malik serta lain-lainnya meriwayatkan hadits dari Amaroj.
Ibnu Ma'in dan Nasai berkata, "Dia seorang kepercayaan." Abu Hatim ber¬kata. "Dia seorang yang shalih haditsnya." Ibnu Sa'ad berkata, "Seorang kepercayaan, dan sedikit hadits yang diriwayatkannya. Dan Malik bin Anas tidak mengunggulkan seorang pun atas dia."
Mereka mengatakan, "Kami adalah putera-putera Usyaihab bin Najjar, lalu mereka terkenal dengan Bani Najjar. Mereka sekarang menjadi kawan setia (mengikat janji setia) dengan Bani Malik bin Najjar, dan tidak diketahui dari keturunan siapa mereka ini." (Tahdzibut-Tahdzib 7: 418, nomor 681).
Ihwal Ibnu Shayyad
Ibnu Shayyad adalah seorang pembohong besar dan kadang-kadang melakukan praktek tukang tenung, maka adakalanya benar dan adakalanya dusta. Maka tersiarlah kabar di kalangan manusia bahwa dia adalah Dajjal, sebagaimana akan disebutkan da¬lam pengujian Nabi saw terhadapnya.


Pengujian Nabi saw Terhadap Ibnu Shayyad

Ketika tersiar di kalangan orang banyak perihal Ibnu Shayyad sebagai Dajjal, maka Nabi saw ingin mengetahuinya secara jelas, lalu beliau pergi menemui Ibnu Shayyad dengan menyamar (tidak menampakkan identitasnya) sehingga Ibnu Shayyad tidak mengetahuinya, dengan harapan beliau dapat mendengar sesuatu darinya, ke¬mudian beliau menghadapkan beberapa pertanyaan kepadanya untuk mengungkap hakikatnya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar ra bahwa Umar pernah pergi bersama Nabi saw dalam suatu rombongan untuk menemui Ibnu Shayyad, hingga mereka berhasil menemuinya ketika ia sedang bermain-main dengan anak-anak kecil di sebelah bangunan yang tinggi seperti benteng yang ada di antara lembah kaum Anshar. Ketika itu Ibnu Shayyad sudah hampir dewasa, dan dia tidak merasa akan kedatangan Nabi saw sehingga beliau memukulnya dengan tangan beliau seraya bertanya, "Apakah engkau bersaksi bahwa saya adalah Rasul Allah?" Lalu Ibnu Shayyad melihat kepada beliau lantas berkata, "Saya bersaksi bahwa engkau adalah Rasul bagi orang-orang ummi (buta huruf)."
Selanjutnya Ibnu Shayyad berkata, "Apakah engkau bersaksi bahwa saya utusan Allah?"
Nabi menjawab, "Aku beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Bagaimana pandanganmu?"
Ibnu Shayyad berkata, "Telah datang kepadaku seorang yang jujur dan seorang pendusta."
Nabi bersabda, "Pikiranmu kacau-balau. Apakah saya menyembunyikan sesua¬tu terhadapmu?"
Ibnu Shayyad menjawab, "Asap."
Nabi bersabda, "Duduklah, sesungguhnya engkau tidak akan dapat melampaui kedudukanmu."
Umar berkata, "Biarkanlah saya pukul kuduknya, wahai Rasulullah."
Nabi bersabda, "Jika ia menyindir, maka engkau tidak dapat menguasainya. Tapi jika ia tidak menyindir, maka tidak ada kebaikan untukmu dalam membunuhnya." (Shahih Bukhari, Kitabul Janaiz, Bab Idza Aslama Ash-Shabiyyu fa maata Hal Yusholla 'alaihi wa Hal Yu 'rodhu 'Ala Ash-Shabiyyi Al-hlamu 3:217).
Dan dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi saw bertanya kepada Ibnu Shayyad, "Apakah yang engkau lihat?" Dia menjawab, "Saya melihat singgasana di atas air." Rasulullah saw bersabda, "Engkau melihat singgasana iblis di laut, dan apa lagi yang engkau lihat?" Dia menjawab, "Saya melihat dua orang yang jujur dan se¬orang pendusta, atau dua orang pendusta dan seorang yang jujur." Kemudian Ra¬sulullah saw bersabda, "Pikirannya sedang kacau-balau, biarkanlah dia!" (Shahih Muslim, Kitabul Fitan wa Asyrothis Sa'ah, Bab Dzikir Ibni Shayyad 18: 49-50).
Ibnu Umar menceritakan dalam versi lain, "Setelah itu Rasulullah saw bersama Ubay bin Ka'ab pergi ke kebun kurma yang di sana terdapat Ibnu Shayyad. Beliau berjalan pelan-pelan karena ingin mendengar sesuatu dari Ibnu Shayyad sebelum Ibnu Shayyad mengetahui beliau, lalu Nabi saw melihatnya sedang berbaring di atas sehelai kain miliknya yang ada tandanya. Lalu ibu Ibnu Shayyad melihat Rasulullah saw yang sedang berlindung di balik batang pohon kurma, lantas ia berkata kepada Ibnu Shay¬yad, "Wahai Shafi -nama ibu Ibnu Shayyad yang sebenarnya- ini adalah Muhammad saw!" Lalu Ibnu Shayyad lari. Kemudian Nabi saw bersabda, "Seandainya ibunya membiarkannya, niscaya akan nampak jelas masalahnya." (Shahih Bukhari 3: 218)..
Abu Dzar ra berkata, "Rasulullah saw pernah mengutus saya untuk menemui ibunya. Beliau bersabda, "Tanyakanlah kepadanya berapa lama ia mengandungnya. " Lalu saya datang kepadanya dan menanyakannya, kemudian ia menjawab, "Aku me¬ngandungnya selama dua belas bulan. " Abu Dzar berkata, "Kemudian beliau menyuruh saya untuk menanyakan bagaimana ia berteriak (menangis) sewaktu dilahirkan. Lalu saya kembali lagi kepadanya dan menanyakannya. Kemudian ia menjawab, "Dia menangis seperti menangisnya bayi yang sudah berusia satu bulan. " Kemudian Ra¬sulullah saw bersabda kepadanya, "Sesungguhnya saya menyembunyikan sesuatu kepadamu." Dia berkata, "Engkau menyembunyikan bagian depan hidung dan mulut (cingur) kambing serta asap kepadaku." Kata Abu Dzar, "Ia hendak mengucapkan ad-dukhon tetapi tidak dapat, lalu ia mengungkapkan ad-dukh, ad-dukh. " (Musnad Ahmad Ahmad 5: 148. Ibnu Hajar berkata, "Shahih.").
Maka pengujian Nabi saw terhadapnya dengan "ad-dukhon" adalah untuk mengetahui hakikat urusannya.
Dan yang dimaksud dengan "ad-dukhon" di sini ialah firman Allah:

"Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata. " (Ad-Dukhon: 10).
Dan di dalam riwayat Ibnu Umar seperti yang diriwayatkan Imam Ahmad: "Aku menyembunyikan sesuatu terhadapmu. " Dan beliau menyembunyikan apa yang terkandung dalam ayat:
"...hari ketika langit membawa kabut yang terang. " (Musnad Ahmad 9 : 139, hadits nomor 6360 dengan tahqiq Ahmad Syakir. Beliau berkata, "Isnadnya shahih.".
Ibnu Katsir berkata, "Ibnu Shayyad dapat mengungkapkannya lewat jalan para dukun dengan lisan jin, dan mereka memotong ungkapan itu. Karena itu ia berkata, ad-dukh, yakni ad-dukhon. Ketika itu tahulah Rasulullah saw materinya bahwa itu dari syetan. Lalu beliau bersabda, "Duduklah, engkau tidak akan dapat melampaui kedudukanmu." (Tafsir Ibnu Katsir 7: 234).
Kematian Ibnu Shayyad
Dari Jabir ra ia berkata, "Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada musim panas. " ( 'Annul Ma 'bud Syarah Sunan Abi Daud 11 : 476).
Ibnu Hajar mengesahkan riwayat di atas dan melemahkan pendapat orang yang mengatakan bahwa Ibnu Shayyad meninggal dunia di Madinah dan mereka membuka wajahnya serta menyalati jenazahnya. (Fathul-Bari 13: 328).




Read More or Baca Selanjutnya ..

Sifat-sifat Dajjal dan Hadits-hadits Yang Berkenaan Dengannya

Dajjal adalah seorang laki-laki dari anak Adam yang memiliki sejumlah sifat sebagaimana dalam beberapa hadits agar manusia mengetahuinya dan berhati-hati terhadapnya, sehingga apabila kelak ia muncul maka orang-orang mukmin dapat mengenalnya serta tidak terfitnah olehnya.
Sifat-sifat inilah yang membedakannya dari manusia lainnya sehingga tidak tertipu olehnya kecuali orang yang jahil yang bakal celaka. Kita memohon keselamatan kepada Allah.

Di antara Sifat-sifat Dajjal
Dia adalah seorang muda yang berkulit merah, pendek, berambut keriting, dahinya lebar, pundaknya bidang, matanya yang sebelah kanan buta, dan matanya ini tidak menonjol keluar juga tidak tenggelam, seolah-oleh buah anggur yang masak (tak bercahaya) dan matanya sebelah kiri ditumbuhi daging yang tebal pada sudutnya. Di antara kedua matanya terdapat tulisan huruf kaf, fa', ra' secara terpisah, atau tulisan "kafir" secara bersambung / berangkai, yang dapat dibaca oleh setiap muslim yang bisa menulis maupun yang tidak bisa menulis. Dan di antara tandanya lagi ialah mandul, tidak punya anak.
Berikut ini beberapa hadits shahih yang menyebutkan ciri-ciri tersebut, yang juga merupakan dalil akan munculnya Dajjal:
1.
 Dari Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda:
"Ketika saya sedang tidur, saya bermimpi melakukan thawaf di Baitullah... . " Lalu beliau mengatakan bahwa beliau melihat Isa Ibnu Maryam 'alaihissalam, kemudian melihat Dajjal dan menyebutkan ciri-cirinya dengan sabdanya: "Dia itu seorang laki-laki yang gemuk, berkulit merah, berambut keriting, matanya buta sebelah, dan matanya itu seperti buah anggur yang masak (tak bersinar). " Para sahabat berkata, "Dajjal ini lebih menyerupai Ibnu Qathn, seorang laki-laki dari Khuza'ah. " (Shahih Bukhari, Kitabul Fitan, Bab Dzikrid Dajjal 13: 90; Shahih Muslim, Kitabul Iman, Bab Dzikril Masih Ibni Maryam 'alai¬hissalam wal-Masihid Dajjal 2: 237).
2.
 Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah saw pernah menyebut-nyebut Dajjal di hadapan orang banyak, lalu beliau.bersabda:
"Sesungguhnya Allah Ta 'ala itu tidak buta sebelah matanya. Ketahuilah, sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal itu buta sebelah matanya yang kanan, seakan-akan matanya itu buah anggur yang tersembul. " (Shahih Bukhari, Kitabul Fi¬tan, Bab Dzikrid Dajjal 13: 90; dan Shahih Muslim, Kitabul Fitan wa Asy-rothis Sa'ah, Bab Dzikrid Dajjal 18: 59).
3. Dalam hadits An-Nawwas bin Sam'an ra, Rasulullah saw bersabda dalam menyifati Dajjal, bahwa dia adalah seorang muda yang berambut sangat keriting (kribo), sebelah matanya tak bercahaya, mirip dengan Abdul 'Uzza bin Qathan. (Sha¬hih Muslim, Kitabul Fitan wa Asyrothis Sa'ah, Bab Dzikrid Dajjal 18: 65).

4.
 Menurut hadits yang diriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shamit ra, Rasulullah saw bersabda:
"Sesungguhnya Masih Dajjal itu seorang lelaki yang pendek dan gemuk, berambut kribo, buta sebelah matanya, dan matanya itu tidak menonjol serta ti¬dak tenggelam. Jika ia memanipulasi kamu, maka ketahuilah bahwa Rabbmu tidak buta sebelah matanya." (‘Aunul Ma'bud Syarah Sunan Abi Dawud 11 : 443. Hadits ini derajatnya shahih. Periksa: Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir 2: 317-318, hadits nomor 2455).

5.
 Dalam hadits Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda:
"Adapun Masih kesesatan itu adalah buta sebelah matanya, lebar jidatnya, bidang dadanya bagian atas dan bengkok." (Musnad Imam Ahmad 75: 28-30 dengan tahqiq dan syarah Ahmad Syakir. Dia berkata, "Isnadnya shahih." Ha¬dits ini juga dihasankan oleh Ibnu Katsir. Periksa: An-Nihayah Fil Fitan wal Malahim 1:130 dengan tahqiq DR. Thaha Zaini).

6. Dalam hadits Hudzaifah ra, Rasulullah saw bersabda:
"Dajjal itu buta matanya sebelah kiri dan lebat rambutnya." (Shahih Muslim, Kitabul Fitan wa Asyrothis Sa'ah, Bab Dzikrid Dajjal 18: 60-61).

7.

 Dalam hadits Anas ra, Rasulullah saw bersabda:
"Dan di antara kedua matanya termaktub tulisan "kafir" (Shahih Bukhari, Ki¬tabul Fitan, Bab Dzikrid Dajjal 13: 91; dan Shahih Muslim, Kitabul Fitan wa Asyrothus Sa'ah, Bab Dzikrid Dajjal 18: 59).
Dan dalam satu riwayat disebutkan:
"Kemudian beliau mengejanya –kaf fa' ra'- yang dapat dibaca oleh setiap muslim." (Shahih Muslim 18: 59).
Dan dalam satu riwayat lagi dari Hudzaifah:
"Dapat dibaca oleh setiap orang mukmin, baik ia tahu tulis baca maupun ti¬dak. " (Shahih Muslim 18: 61).
Tulisan ini (yang ada di antara kedua mata Dajjal) adalah hakiki, sesuai dengan lahirnya, dan tidak sukar untuk diketahui oleh sebagian orang (yang muslim) dan ti¬dak diketahui oleh sebagian orang lagi (yakni orang kafir), bahkan orang muslim yang buta huruf pun dapat membacanya. Hal ini disebabkan kemampuan memandang itu diciptakan oleh Allah bagi hamba-Nya bagaimana dan kapan saja ia berkehendak. Tu¬lisan ini dapat diketahui oleh mukmin dengan pandangan matanya, meskipun dia tidak kenal tulis-menulis, dan tidak dapat diketahui oleh kafir sekalipun dia tahu baca tulis, sebagaimana halnya orang mukmin dapat mengetahui bukti-bukti kekuasaan Allah de¬ngan pandangan matanya sedangkan orang kafir tidak mengetahuinya. Maka Allah menciptakan pengetahuan bagi orang mukmin tanpa mengalami proses belajar mengajar, sebab pada zaman itu memang terjadi hal-hal yang luar biasa. (Fathul-Bari 13: 100).
Imam Nawawi berkata, "Pendapat yang benar yang dipegang oleh para muhaqqiq ialah bahwa tulisan ini nampak secara lahir dan hakiki (sebenarnya) sebagai suaru tanda dan alamat yang diciptakan oleh Allah di antara sejumlah alamat atau tanda-tanda yang menunjukkan dengan qath 'i akan kekafiran, kebohongan, dan kebatilannya (Dajjal). Dan tanda-tanda ini dinampakkan oleh Allah kepada setiap orang muslim yang tahu tulis baca maupun yang tidak tahu tulis baca, dan disembunyikannya untuk orang yang dikehendaki-Nya akan celaka dan terfitnah. Dan hal ini tidak dapat dihalangi sama sekali." (Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi 18: 60).


8. Dan di antara sifat-sifatnya (ciri-cirinya) lagi ialah seperti yang disebutkan dalam hadits Fathimah binti Qais ra mengenai kisah Al-Jasasah yang di dalam kisah (riwayat) itu Tamim Ad-Dari ra berkata, ".... Lalu kami berangkat dengan segera sehingga ketika kami sampai di biara tiba-tiba di sana ada seorang yang sangat besar (hebat) dan diikat sangat erat...." (Shahih Muslim, Kitabul Fitan wa Asy-rothis Sa'ah, Bab Qishshotil Jasasah 18: 81).


9. 

 Dalam hadits Imron bin Husein ra, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda:
"Semenjak diciptakannya Adam hingga datangnya hari kiamat tidak ada makhluk yang lebih besar daripada Dajjal. " (Shahih Muslim 18: 86-87).


10. Dajjal tidak punya keturunan, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Abi Sa'ad Al-Khudri ra dalam kisahnya bersama Ibnu Shayyad. Kata Ibnu Shayyad kepada Abu Sa'id, "Saya bertemu orang banyak dan mereka mengira saya ini Dajjal. Bukankah Anda pernah mendengar Rasulullah saw bersabda bahwa Dajjal tidak punya anak (keturunan)?" Abu Sa'id menjawab, "Betul." Ibnu Shayyad berkata lagi, "Padahal saya punya anak...." (Shahih Muslim, Kitabul Fitan wa Asyrothis Sa 'ah, Bab Dzikri Ibnu Shayyad 18: 50).
Perlu diperhatikan bahwa dalam riwayat-riwayat di muka disebutkan bahwa Dajjal itu buta matanya yang sebelah kanan, sedangkan pada riwayat yang lain disebutkan bahwa matanya yang butanya adalah sebelah kiri, padahal semua riwayat itu shahih. Ini merupakan suatu kemusykilan.
Ibnu Hajjar berpendapat bahwa hadits Ibnu Umar yang tercantum dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang menyifati Dajjal buta matanya yang sebelah ka¬nan adalah lebih kuat daripada riwayat Muslim yang mengatakan bahwa yang buta adalah matanya sebelah kiri, sebab hadits yang disepakati shahihnya oleh Bukhari dan Muslim lebih kuat daripada lainnya. (Fathul-Bari 13: 97). .
Al-Qadhi 'Iyadh berpendapat bahwa kedua belah mata Dajjal itu cacat, sebab se¬mua riwayatnya shahih. Yang satu tidak bercahaya (ath-thafi-ah, dengan memakai huruf hamzah) yakni buta, dan ini untuk mata yang sebelah kanan sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Umar. Dan matanya yang sebelah kiri ditumbuhi oleh daging pada sudutnya yang dapat menutupi sebagian atau seluruh lensanya (ath-thafiyah, dengan menggunakan huruf ya'), dan ini yang dimaksud dengan buta matanya sebelah kiri. Jadi masing-masing mata Dajjal itu cacat, yang satu tidak dapat melihat sama sekali dan satunya cacat dengan ditumbuhi daging.
Imam Nawawi mengomentari jalan jama' (kompromi) seperti yang dikemukakann Qadhi 'Iyadh itu sangat bagus (Syarah Muslim 2: 235) dan dikuatkan pula oleh Abu Abdillah Al-Qurthubi (At-Tadzkirah: 663).



Read More or Baca Selanjutnya ..

Al-Masih Ad-Dajjal

Makna Al-Masih

Abu Abdillah Al-Qurthubi menyebutkan dua puluh tiga variasi bentuk kata dari lafal Al-Masih ini. (At-Tadzkiroh: 679). Dan pengarang Al-Qamus memecahnya menjadi lima puluh bentuk kata. (Vide: Tartibul Qamus 4: 239. Penyusun kamus ini mengatakan bahwa dia menguraikan variasi bentuk kata ini dalam kitabnya Syarhu Masyariqil Anwar dan lainnya).
Lafal Al-Masih dapat berarti Ash-Shiddiq (yang benar / suka kepada kebenaran) dan adhalil Al-Kadzdzab (yang sesat lagi pembohong). Maka Al-Masih Isa 'alaihissa-lam adalah Ash-Shiddiq, sedang Al-Masih Ad-Dajjal adalah Adh-Dhalil Al-Kadzdzab.
Allah menciptakan dua Al-Masih yang kontradiktif. Isa 'alaihissalam adalah Al-Masih pembawa petunjuk, yang dapat menyembuhkan tuna netra dan penyakit sopak (penyakit kulit yang tidak memiliki zat warna), dan dapat menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Sedang Dajjal adalah Al-Masih kesesatan yang menyebarkan fitnah kepada manusia dengan kejadian-kejadian luar biasanya seperti menurunkan hujan, menghidupkan bumi dengan tumbuh-tumbuhan dan sebagainya. Dajjal disebut masih karena salah satu matanya terhapus (buta), atau karena ia menghapus bumi selama empat puluh hari. (Periksa: An-Nihayah Fi Gharibil Hadits 4: 326- 327; dan Lisanul Arab 3: 594-595).
Dan pendapat yang pertama (bahwa Dajjal buta sebelah matanya) adalah pendapat yang lebih kuat berdasarkan hadits "Bahwasanya Dajjal terhapus (buta) sebelah matanya." (Shahih Muslim, Kitabul Fitan wa Asyrothis Sa'ah, Bab Dzikrid Dajjal 18: 61).
Makna Ad-Dajjal
Adapun kata Ad-Dajjal ini diambil dari perkataan mereka: "Dajala Al-ba'iiro idzaa tholaahu bi Al-qothiron waghoththoo bihi" (Seseorang itu mendajjal unta bila melumurinya dangan ter/ aspal dan menutupnya dengannya)." (Periksa: Lisanul Arab 11: 236, dan Tanibul Qamus 2: 152).
Dan asal makna "Dajjal" ialah "Al-Kholath" (mencampur, mengacaukan, membingungkan). Dikatakan bahwa "seseorang itu berbuat Dajjal bila ia menyamarkan dan memanipulasi," dan "Ad-Dajjal" ialah manipulator dan pembohong yang luar biasa. Lafal ini termasuk bentuk mubalaghah (menyangatkan / intensitas) mengikuti wazan "fa'aal", artinya banyak menelurkan kebohongan dan kepalsuan. (Periksa: An-Nihayah Fi Gharibil Hadits 2: 102).
Dan bentuk jamaknya ialah "dajjaaluun", sedang Imam Malik menjamakkannya dengan bentuk "dajaajilah" sebagai jamak taksir (Lisanul Arab 11: 236). Al-Qur¬thubi mengatakan bahwa lafal "dajjal" menurut lughat dapat diucapkan dalam sepuluh bentuk. (At-Tadzkirah: 658).
Lafal Dajjal sudah menjadi isim alam (kata nama) bagi Al-Masih sang pendusta dan buta sebelah matanya, sehingga kalau disebutkan kata "Dajjal" maka yang segera ditangkap pengertiannya ialah si pembohong tersebut.
Dan "Dajjal" itu dinamakan "Dajjal" karena ia menutup kebenaran dengan kebatilan, atau karena ia menutupi kekafirannya terhadap orang lain dengan kebohongan, kepalsuan, dan penipuannya atas mereka.
Dan ada yang mengatakan karena ia menutupi bumi dengan banyaknya kelompoknya. (Lisanul Arab 11: 236-237, dan Tanibul Qamus 2: 152). Wallahua'lam.

Read More or Baca Selanjutnya ..

What Does This Blog Talk? Blog ini Bicara Tentang...

Blog ini dengan bangga akan memberikan informasi dan berbagi cerita tentang Tanda - tanda hari Kiamat, sebagaimana yang telah terkabarkan di dalam Al Qur'an dan hadits Rasulullah saw. Semoga bermanfaat.

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Romantico by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP